SIKAP PARA ULAMA TENTANG PERSELISIHAN YANG TERJADI DI ANTARA PARA SHAHABAT.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (661-728H) menerangkan dalam Fatawa- :”Kami menahan tentang apa-apa yg terjadi diantara mereka dan kami mengetahui bahwa sebagian cerita-cerita yg sampai kpd kami tentang (kejelekan) mereka (semuanya) ialah dusta. Mereka (para shahabat) ialah mujtahid, jika mereka benar maka mereka akan dpt dua ganjaran dan akan diberi pahala atas amal shalih mereka, serta akan diampuni dosa-dosa mereka. Adapun jika ada pada mereka kesalahan-kesalahan sungguh kebaikan dari Allah telah mereka peroleh maka sesungguh Allah akan mengampuni dosa mereka dgn taubat mereka atau dgn peruntukan baik yg mereka kerjakan yg dpt menghapuskan dosa-dosa mereka atau dgn yg lainnya. Sesungguh mereka ialah sebaik-baik umat dan sebaik-baik masa, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam”. [17]
Kata Ibnu Katsir :”Adapun perselisihan yg terjadi di antara mereka sesudah wafat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ada yg terjadi secara tdk sengaja seperti Perang Jamal (antara Ali dgn ‘Aisyah) dan adapula yg terjadi berdasar ijtihad seperti Perang Shiffin (antara Ali dgn Mua’wiyah). Ijtihad terkadang benar dan terkadang salah, akan tetapi (bila salah) pelaku akan diampuni Allah dan akan dpt ganjaran kendatipun ia salah. Adapun jika ia benar ia akan dpt dua ganjaran. Dalam hal ini Ali dan para shahabat lebih mendekati kpd kebenaran daripada Mu’awiyah mudah-mudahan Allah meridhai mereka semua (Ali, ‘Aisyah, Muawiyah dan para shahabat mereka)”.[18]
Meskipun perselisihan yg terjadi diantara para shahabat sempat membawa korban jiwa, yakni ada diantara mereka yg gugur, tetapi mereka segera bertaubat krn mereka ialah orang-orang yg selalu bertaubat kpd Allah dan Allah-pun menjanjikan taubat atas mereka. Allah berfirman.
“Arti : Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguh Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayg”. [At-Taubah : 102].
[H]. PARA SHAHABAT TIDAK MA’SHUM.
Sesungguh persaksian Allah dan Rasul-Nya terhadap para shahabat tentang hakikat iman mereka dan keridhaan Allah dan Rasul-Nya kpd mereka tdklah menunjukkan bahwa mereka ma’shum (terpelihara dari dosa dan kesalahan) atau mereka bersih dari ketergelinciran, krn mereka bukan Malaikat dan bukan pula para Nabi. Bahkan pernah diantara mereka segera istighfar dan taubat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Arti : Setiap anak Adam bersalah dan sebaik-baik orang yg bersalah ialah yg bertaubat”. [Hadits Hasan Riwayat Ahmad 3: 198, Tirmidzi, Ibnu Majah, Hakim 4:244. Shahih Jami’us Shagir 4391, Takhrijul Misykat No. 2431].
Abu Bakar Ibnul ‘Arabi berkata :”Dosa-dosa (yg dilakukan para shahabat) tdklah menggugurkan ‘ialah (keadilan), apabila sudah ada taubat”. [19].
Kita yakin seyakin-yakin bahwa para shahabat yg pernah bersalah semua bertaubat kpd Allah dan mereka tdk bisa dikatakan nifaq atau kufur. Semua ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah telah sepakat bahwa para shahabat yg ikut serta dalam persengketaan, ikut dalam perang Jamal dan perang Shiffin, mereka ialah orang-orang yg beriman dan adil. Dan kesalahan mereka yg bersifat individu dan berjama’ah tdk menggugurkan pujian Allah atas mereka.
Abu Ja’far Muhammad bin Ali Al-Husain ketika dita tentang orang-orang (para shahabat) yg ikut serta dalam perang Jamal ia menjawab :”Mereka (para shahabat) ialah orang-orang yg tetap dalam keimanan dan mereka bukan orang-orang kafir”. [20]
Ibnu Abbas, Ibnu Umar dan Ibnu Mas’ud, mereka berkata :”Ali bin Abi Thalib menyalatkan jenazah para shahabat yg memihak Mu’wiyah”. [21]
[I]. PENDAPAT PARA ULAMA TENTANG ORANG-ORANG YANG MENCACI MAKI/MENGHINA PARA SHAHABAT RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM.
Imam Malik berkata ;”Orang-orang yg membenci para Shahabat Rasulullah ialah orang-orang kafir”. [Tafsir Ibnu Katsir V hal. 367-368) atau IV hal. 216 cet. Daarus Salam Riyadh.]
Al-Qadhi ‘Iyaadh berkata :”Jumhur Ulama berpendpt bahwa orang yg menghina/mencaci maki para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hrs dihukum ta’ziir (yakni hrs didera menurut kebijaksanaan hakim Islam -pen)”. [Fathul Bari VII hal. 36].
Kata Imam Abu Zur’ah Ar-Raazi (wafat th 264H):”Apabila engkau melihat seseorang mencaci maki/menghina seseorang dari shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka ketahuilah bahwa orang itu ialah Zindiq (kafir). Yang demikian krn Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ialah haq, Al-Qur’an ialah haq dan apa-apa yg dibawa ialah haq dan yg menyampaikan semua itu kpd kita ialah para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka (orang-orang zindiq) itu mencela kesaksian kita agar bisa membatalkan Al-Qur’an dan Sunnah (yakni agar kita tdk percaya kpd Al-Qur’an dan Sunnah -pen). Merekalah yg pantas mendpt celaan”. [22]
Imam Al–Hafizh Syamsuddin Muhammad ‘Utsman Adz-Dzahabi yg lebih dikenal dgn Imam Adz-Dzahabi (673-747H) berkata :”Barangsiapa yg mencaci mereka (para shahabat) menghina mereka, maka sesungguh ia telah keluar dari agama Islam dan telah merusak kaum muslimin. Mereka yg mencaci ialah orang yg dengki dan ingkar kpd pujian Allah yg disebutkan dalam Al-Qur’an dan juga mengingkari Rasulullah yg memuji mereka dgn keutamaan, tingkatan dan cinta … Memaki mereka berarti memaki pokok pembawa syari’at (yakni Rasulullah). Mencela pembawa Syari’at berarti mencela kpd apa yg dibawa (yaitu Al-Qur’an dan Sunnah)”. [23]
[J]. KHATIMAH.
Apa yg telah saya terangkan dari Al-Qur’an dan Sunnah kira sudah cukup jelas, lebih-lebih lagi dikuatkan dgn pendpt Jumhur Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Oleh krn itu sikap kaum Mu’minim terhadap mereka (para shahabat) ialah sebagaimana yg disebutkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah, yaitu :
[a]. Mereka sebaik-baik ummat.
[b]. Kita diwajibkan mengikuti jejak langkah mereka dgn baik [At-Taubah : 100] dan tdk boleh menyimpang dari jalan mereka [An-Nisaa’ : 15] dan berpegang kpd Sunnah Rasul dan Khulafaur Rasyidin.
[c]. Semua Shahabat ialah adil
[d].Kita tdk berkeyakinan bahwa para Shahabat ma’shum, krn tdk seorangpun yg ma’shum selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kita ridha kpd mereka dan kita mohonkan untuk mereka ampunan dan kita menahan dari apa yg terjadi di antara mereka [Al-Hasyr : 10].
[K]. KESIMPULAN.
Golongan Orientalis, Yahudi dan Syi’ah ialah golongan yg paling banyak mencaci dan menghina para Shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Aqidah Syi’ah yg menyatakan para Shahabat tdk adil, bahkan mereka mengkafirkan, mereka ialah orang yg sesat dan menyesatkan dan orang-orang dinyatakan kafir. [24]
Hukum mencaci/menghina para Shahabat ialah haram dan pelaku akan dilaknat Allah, Malaikat dan seluruh manusia. Sabda Nabi :”Barangsiapa mencela shahabatku, maka ia mendpt laknat dari Allah, malaikat dan seluruh manusia”. [Hadist Riwayat Thabrani]
Orang Munafiq dan Murtad dan mati dalam keadaan demikian mereka ialah termasuk golongan kafir dan tdk termasuk Shahabat meskipun berjumpa dgn Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Semua shahabat ialah adil dan tetap dikatakan orang-orang yg beriman, meskipun mereka berselisih [Al-Hujuraat 9-10].
Sebesar apapun infaq yg kita keluarkan di jalan Allah tdk akan dpt menyamai derajat seorang shahabat Rasulullah. Kita wajib mencintai para shahabat. Kita sehrs mendo’akan orang-orang yg terlebih dahulu beriman dari pada kita :
“Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yg telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yg beriman ; Ya Rabb kami, sesungguh Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayg”. [Al-Hasyr : 10]
[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 12/ThI/1415-1995]
_________
Foote Note
[13]. Al-Kifayah fi ‘Ilmir-Riwayah hal. 49; Tanbih Dzawin Najabahilla ‘Adaalatis Shahabah oleh Qurasy bin Umar bin Ahmad hal. 23
[14]. Al-Iti’ab fi Ma’rifati Ashab Juz I hal. 9 cet. Daarul Fikr 1398H
[15]. Ushulul Hadits hal. 386 dinukil dari Al-Ihkam fil Ushulil-Ahkam
[16]. Al-Baitsul-Hatsits fi Ikhtishar Ulumil Hadits hal.154
[17]. Majmu Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah jilid III hal. 406
[18]. Al-Ba’itsul Hatsits syarah Ikhtisar Ulumil hadits hal. 154
[19]. Al-’Awashin minal Qawashim tahqiq Syaikh Muhibudin Al-Khatib hal. 94 Daarul Mathba’ah Salafiayh cet V Cairo.
[20]. Ushulul -Itiqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah oleh Imam Al-Lalikai, tahqiq DR Ahmad Sa’ad Hamdan jilid V & VI hal 1059-1060 cet. Daar Thayyibah-Riyadh
[21]. Idem
[22]. Al-Awashim minal Qawashim hal. 34
[23]. Al-Khabair Adz-Dahabi, tahqiq Abu Khalid Al-husain bin Muhammad as-Sa’idl hal. 352-353 Daarul Fikr th 1408H cet. I
[24]. Limaza Kafaral ‘ulama Al-Khumaini oleh Wajih Al-Madini cet. cairo I 1408H; Aqaidus Syi’ah fil Mizan oleh Dr Muhammad Kamil Al-Hasyimi cet I, th 1409
Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1197&bagian=0
Sumber Semua Sahabat Rasulullah Adalah Adil Dan Haram Hukum Mencaci Maki Mereka 3/3 : http://alsofwah.or.id
emikiran Pengantar berikut ini adl sebuah penjelasan mengenai kesalahan pertama yg timbul di kalangan ummat Islam. Bagaimana dan pada siapa ia timbul serta bagaimana terwujudnya? Telah kami jelaskan bahwa kesalahan-kesalahan yg timbul pada masa-masa lalu sama persis dgn yg terjadi pada masa-masa berikutnya. Dengan cara yg sama dapat kami tunjukkan bahwa pada zaman tiap nabi dan pendiri suatu umat atau agama kesalahan-kesalahan di kalangan umatnya pada akhir zamannya timbul dari kesalahan-kesalahan musuh-musuhnya yg ada pada permulaan zamannya yakni dari kaum kafir dan orang-orang yg tak beriman kebanyakan mereka adl munafik. Semua ini akan nampak ada pada kita dgn memperhatikan manusia terdahulu pada masa yg telah lama berlalu. Mengenai kesalahan-kesalahan dalam umat Islam ini bukan rahasia lagi bahwa hal itu timbul dari kaum munafik pada masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yg tidak mengakui apa yg beliau perintahkan dan apa yg beliau larang namun mereka mulai mencari-cari alasan sesuai dgn maksud mereka. Mereka mengajukan berbagai pertanyaan tentang hal-hal yg tak diperbolehkan dan mendebat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam secar tak berdasar tentang perkara-perkara yg tak perlu diperdebatkan. Perhatikan hadis mengenai Dzul Khuwaisirah at-Tamimi ketika ia berkata “Berlaku adillah wahai Muhammad atas apa yg engkau telah gagal berlaku adil.” Ketika itu pula Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab “Jika aku tidak berlaku adil maka siapakah yg mau berlaku adil?” Tetapi orang terkutuk itu mengulangi apa yg telah beliau katakan dan melanjutkan dgn katanya “Ini merupakan suatu distribusi yg tidak ada dalam pikiran Allah.” Ini merupakan suatu pembangkangan yg nyata terhadap Nabi. Jadi kalau orang yg mengritik imam yg haq menjadi seorang Khawarij maka betapa lbh pantas orang tesebut disebut sebagai Khawarij. Bukankah kritiknya itu sama dgn memegang pendapat tentang sesuatu yg baik dan buruk berdasarkan akal dan menghukumi sesuatu menurut ide seseorang yg jelas bertentangan dgn perintah yg jelas? Apakah bukan perbuatan tercela jika menolak perintah yg jelas benarnya dgn bentuk analogi tertentu? Nabi akhirnya bersabda “Dari kedua pinggang orang inilah akan ada suatu ummat yg lari dari agama ini bagai lepasnya anak panah dari busurnya.” Begitulah yg terjadi semasa hidup Nabi ketika beliau masih sehat kuat dan bugar. Kaum munafik kala itu bertindak dgn tipu daya dan muslihat secara lahiriah berwujud Islam padahal mereka menyembunyikan keingkaran mereka. Akan tetapi kemunafikan mereka terlihat dgn sendirinya dari adanya kritikan dan penolakan mereka yg konstan terhadap segala yg Nabi lakukan. Kritik-kritik mereka itu tidak ubahnya laksana tebaran benih cikal-bakal sebuah pohon kesalahan besar. Adapun mengenai perselisihan yg timbul di kalangan sahabat Nabi ketika beliau sakit dan setelah kematiannya hanyalah perselisihan yg bersifat ijtihadiyah yg tujuan mereka hanya utk mempertahankan syariah dan menegakkannya. Adapun setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal terjadilah perdebatan tentang meninggalnya beliau antara Umar dan yg lainnya. Umar berkata “Siapa pun yg mengatakan bahwa Muhammad telah meninggal maka aku akan membunuhnya dgn pedangku ini. Dia telah di angkat ke langit sebagaimana Isa.” Akan tetapi Abu Bakar bin Abi Quhafah menyatakan “Siapa yg menyembah Muhammad maka Muhammad kini telah mati. Siapa yg menyembah Tuhan Muhammad maka Tuhan Muhammad masih dan akan tetap hidup Dia tidak mati dan tidak akan mati.” Kemudian Abu Bakar membacakan ayat 114 surat Ali Imran yg artinya “Muhammad tiada lain hanyalah seorang Rasul yg telah berlalu sebelumnya beberapa Rasul yg lain. Lalu mengapakah seandainya ia mati atau terbunuh kamu akan berpaling daripadanya ? Siapa pun yg murtad maka sedikit pun tidak akan merugikan Allah. Allah akan memberi balasan bagi orang-orang yg bersyukur.” Umat Islam ketika itu langsung menerima apa yg dikatakan oleh Abu Bakar. Umar berkata “Seolah-olah aku belum pernah mendengar ayat ini sampai Abu Bakar membacakannya.” Demikianlah umat Islam selalu bisa keluar dari beberapa perselisihan yg terjadi pada mereka -dengan taufik Allah- dgn kesepakatan yg menjaga keutuhan mereka. Demikian juga perselisihan yg terjadi ketika pengangkatan khalifah sesudah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal semua berakhir dgn dibai’atnya Abu Bakar. Juga ketika Abu Bakar meninggal perselisihan dicegah dgn diangkatnya Umar. Pengangkatan Utsman sesudah Umar pun dgn jalan musyawarah antara enam orang sahabat yg tentunya mencegah terjadinya beda pendapat yg meluas di kalangan kaum muslimin. Namun beliau terbunuh secara tidak adil di rumahnya sendiri akibat perbuatan pihak yg zalim yg ingin menimbulkan perpecahan di kalangan kaum muslimin. Perdebatan tentang khilafah dan imamah memang merupakan perdebatan dan perselisihan terbesar yg pernah dihadapi oleh kaum muslimin. Sebab belum ada sebelum itu yg melibatkan pedang sampai bicara sampai timbulnya perselisihan tentang khilafah dan imamah ini. Yang terbesar dan berpengaruh pada keutuhan umat adl perselisihan yg terjadi pada masa Ali bin Abi Thalib setelah secara bulat ia diakui sebagai khalifah. Mulanya Thalhah dan Zubair berangkat ke Makkah dan mengajak ‘Aisyah utk berangkat ke Bashrah bersama mereka utk menuntut darah Utsman. Berikutnya mereka terlibat ‘Perang Jamal’ dgn Ali. Akan tetapi keduanya berhati lembut dan bertaubat sebab Ali memperingatkan mereka dgn sesuatu yg harus mereka ingat. Ketika keluar dari peperangan Zubair dibunuh oleh Ibnu Jarmuz yg kini berada di neraka sebab Nabi bersabda “Berikan kabar kepada pembunuh Ibnu Shafiyyah bahwa ia akan masuk neraka.” Thalhah terbunuh dgn panah Marwan bin al-Hakam ketika ia pulang dari perang. Adapun ‘Aisyah dia tetap ingin melakukan apa yg hendak ia lakukan namun akhirnya ia menyesali perbuatannya dan bertaubat. Adapun mengenai perselisihan antara Ali dan Mu’awiyah Perang Shiffin perlawanan kaum Khawarij yg memaksa ‘Ali menerima arbitrasi tipu muslihat ‘Amr bin al-’Ash kepada Abu Musa al-Asy’ari dan kelajutan perselisihan tersebut sampai Ali meninggal merupakan perkara yg begitu terkenal. Demikian pula halnya dgn perselisihan antara Ali dgn kaum Khawarij mereka yg berkumpul di Nahrawan meneruskan perlawanan terhadap Ali ejekan mereka kepadanya dan konflik senjata antara mereka dengannya semua itu juga amat termasyhur. Secara keseluruhan Ali berada di pihak yg benar. Ali pada masanya bukan hanya menyaksikan orang yg memberontak kepadanya seperti Asy’ats bin Qais Mis’ar bin Fadaki at-Tamimi Zaid bin Hushain ath-Tha’i dan lain-lainnya tetapi juga menyaksikan orang-orang yg bersikap ekstrem seperti Abdullah bin Saba dan para pengikutnya. Dari kedua kelompok ini muncullah penyimpangan dan kesesatan. Dengan demikian benarlah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Dua jenis kelompok manusia akan binasa krn engkau mereka yg mengatakan cinta setia kepadamu dan mereka yg sangat membencimu.” Sumber Diadaptasi dari Sekte-Sekte Islam Muhammad bin Abdul Karim asy-Syahrastani Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar