Rasulullah SAW bersabda, "Malaikat Jibril mentalqinkan (membacakan) kepadaku kata'' amin'', saat aku diam setelah membaca surat Al-Fatihah, seraya berkata, "Itu seperti penutup dari suatu surat."
Di sisi lain, mengucapkan amin di dalam shalat dijanjikan akan diampuni dosanya, berdasarkan hadits shahih berikut ini.
"Apabila Ia mengucapkan amin, maka ucapkanlah amin. Sesungguhnya siapa yang sama amin-nya dengan amin malaikat, maka dosanya yang telah lalu diampuni". (HR Bukhari dan Muslim)
Nabi Muhammad SAW sebagai rasul dan sumber syariah Islam, telah mendapatkan banyak jenis wahyu. Sebagian dari wahyu itu berbentuk ayat Al-Quran, namun jumlahnya sangat terbatas. Hanya sekitar 6000-an ayat saja. Tentu sangat tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar pengambilan hukum syariah.
Karena itu Allah SWT telah menetapkan bahwa apa yang diucapkan, dikerjakan bahkan yang disikapi dengan diam (taqrir) oleh nabi Muhammad SAW, juga berlaku sebagai sumber syariah Islam. Itulah yang kita sebut dengan istilah hadits atau sunnah nabi. Baik Al-Quran maupun hadits nabi, keduanya adalah wahyu. Sebab semua bersumber dari satu titik yang sama, yaitu dari Allah SWT. Meski masing-masing punya perbedaan yang esensial.
Di dalam Al-Quran, Allah perintahkan kita untuk mengikuti apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.
"Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah."(QS. Al-Hasyr: 7)
Bahkan mengikuti petunjuk Rasulullah SAW adalah merupakan bentuk implementasi dari kecintaan kita kepada Allah SWT. Allah berfirman:
"Katakanlah, "Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."(QS. Ali Imran: 31)
Selain itu, saya pun juga mendapatkan ilmu dari tastqif Ramadhan 1431 H kemarin, tentang arti kata amin menurut bahasa, ternyata amin, aamin, amiiin, dan aaamiiin itu memiliki perbedaan. Kurang lebih definisinya sebagai berikut :
- ”AMIN” (alif dan mim sama-sama pendek), artinya AMAN, TENTRAM
- “AAMIN” (alif panjang, mim pendek), artinya MEMINTA PERLINDUNGAN KEAMANAN
- ”AMIIN” (alif pendek, mim panjang), artinya JUJUR TERPERCAYA
- “AAMIIN” (alif , mim sama-sama panjang), artinya YA TUHAN, KABULKANLAH DOA KAMI
- AMÎN (Yang terpercaya)
Kata amîn (أَمِيْن) berasal dari kata al-amn (الأَمْن) yang merupakan bentuk mashdar dari amina (أَمِنَ) - ya’manu (يَأْمَنُ) - amnan (أَمْنًا) - amânan (أَمَانًا) dan amânatan (أَمَانَةً). Atau dari amuna (أَمُنَ) - ya’munu (يَأْمُنُ) - amânatan (أَمَانَةً). Ar-Raghib Al-Asfahani mengartikan kata amn (أَمْن) dengan “ketenteraman jiwa” (thuma’nînatu an-nafs = طُمَأْنِيْنَةُ النَّفْسِ), sedangkan kata amn kadang-kadang diartikan sebagai “suatu keadaan tempat manusia berada” dan kadang-kadang diartikan sebagai “suatu kepercayaan yang diberikan kepada manusia”. Arti yang terakhir ini hampir sama dengan yang dikemukakan Ibnu Faris, yaitu memberikan amanah (i‘thâ’ al-amânah = إِعْطَاءُ الأَمَانَة).Berangkat dari pengertian kata amn di atas, dapat pula diberikan pengertian kata amîn (أَمِيْن), yang menurut bahasa berarti “orang yang setia, jujur, atau orang yang aman, yang selamat, atau “yang dipercayai” (al-ma‘mûn ats-tsiqah, al-mu’tamin wa al-mu’taman). Kata amîn (أَمِيْن) sering dihubungkan dengan kata lain, umpamanya amîn ash-shundûq (أَمِيْن الصُّنْدُوْق = kasir), amîn al-mâl (أَمِيْن الْمَالِ = bendahara), amîn al-makhzan (أَمِيْن الْمَخْزَن = penjaga gudang), dan amîn al-maktabah (أَمِيْن الْمَكْتَبَة = penjaga pustaka).Sejalan dengan pengertian amîn (أَمِيْن) menurut bahasa tersebut, Ibrahim Anis mengartikan amîn (أَمِيْن) menurut istilah sebagai al-hâfizh al-hâris wa al-ma’mûn wa man yatawalla riqâbah syai’ au al-muhâfazhah ‘alaih (الْحَافِظُ الْحَارِسُ وَ الْمَأْمُوْنُ وَمَنْ يَتَوَلَّى رِقَابَةَ شَيْئٍ أَوِ الْمُحَافَظَةَ عَلَيْهِ = orang yang menjaga, memelihara, dipercayai, dan berwenang mengawasi sesuatu atau memeliharanya).Selain itu, Al-Farisi, sebagaimana dikutip Ibnu Manzur, mengatakan bahwa ada kata amîn (أَمِيْن) dengan qashr (pendek) hamzah dan ada juga kata âmîn (آمِيْن) dengan madd (panjang) hamzah yang berarti “Allâhumma istajib lî” (اللهُمَّ اِسْتَجِبْ لِي = Ya Allah, perkenankanlah bagiku). Dua kata ini dipandangnya sebagai kalimat yang terdiri dari fi‘l dan ism (ism fi‘l), yang biasanya diucapkan pada akhir doa atau diucapkan oleh makmum pada akhir bacaan Al-Fatihah dari seorang imam.Di dalam Al-Quran, kata amîn (أَمِيْن) disebut 14 kali, yaitu di dalam S. Al-A‘râf [7]: 68, S. Yûsuf [12]: 54, S. Asy-Syu‘arâ’ [26]: 107, 125, 143, 162, 178, dan 193, S. An-Naml [27]: 39, S. Al-Qashash [28]: 26, S. Ad-Dukhân [44]: 18, 51, S. At-Takwîr [81]: 21, serta S. At-Tîn [95]: 3.Kata amin (أَمِيْن) di dalam S. Al-A‘râf [7]: 68 serta S. Asy-Syu‘ara’ [26]: 107, 125, 143, 162, dan 178 bermakna “dipercayai” (ism fâ‘il dengan makna ism maf‘ûl), dan kata itu merupakan pernyataan para rasul kepada kaumnya bahwa mereka adalah rasul yang dipercayai (rasûl amîn =رَسُوْل أَمِيْن). Adapun kata amîn (أَمِيْن) di dalam Ayat 193 dari Surat yang sama adalah dalam konteks pembicaraan turunnya Al-Quran dari Allah dan dibawa oleh malaikat Jibril yang disebut Rûh al-Amîn (رُوْحُ الأَمِيْن).Pengungkapan kata amîn (أَمِيْن) di dalam S. Yûsuf [12]: 54, S. An-Naml [27]: 39, S. Al-Qashash [28]: 26, dan S. Ad-Dukhân [44]: 18 semuanya dengan makna “yang terpercaya”.Kata amîn (أَمِيْن) di dalam S. At-Takwîr [81]: 21 berkaitan dengan sifat malaikat Jibril sebagai pembawa wahyu, berarti ia mempunyai kedudukan tinggi serta terpercaya.Kata amîn (أَمِيْن) di dalam S. At-Tîn [95]: 3 berhubungan dengan sifat dan keadaan negeri Mekah. Negeri Mekah disebut al-amîn (الأَمِيْن) karena seharusnya negeri itu aman dari segala bentuk gangguan dan permusuhan, seperti pencurian dan perampokan. (Hasan Zaini)
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapus